Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2008

Part I

Nasihat si kecil

“Hahaha…!!!! Hahaha…!!!” suara gelak tawa terdengar
begitu keras dari ruang TV. Didepan sebuah layar datar berukuran 30’ inch
terlihatlah sesosok laki-laki sedang asyik berguling-guling
di sofa sembari memegang perutnya. Wajah yang mulai memerah
seakan tak mengurangi keinginannya untuk terus tertawa.
Cowok berumur 16tahun tersebut terpingkal-pingkal gara-gara menonton
sebuah sinetron religi yang penuh dengan adegan serta dialog-dialog kocak.
“Randi…..! ga’ baek, tertawa berlebihan gitu…mendingan shalat dulu sana.
Udah azan dari tadi…”ucap wanita setengah baya yang baru saja keluar dari kamar dekat ruang TV.
“iya ma…maaf. Randi lagi nonton PPT nih. Lucu banget!
Masa’ tadi si Tora azan sambil teriak-teriak gitu..kayak lagi nyanyi rock aja, ma. Lagian habis gitu, langsung ngabur lagi…bukannya shalat jemaah sama yang laen…hehehe.” Randi masih saja tertawa sambil menceritakan adegan
dalam sinetron. Sesekali tangannya merogoh cemilan dalam toples diatas meja.
Saat itu memang sudah waktunya berbuka puasa.
Setelah mendengar azan dan makan kolak bareng mama papanya,
Randi memang langsung ngacir ke ruang TV.
Maklum saja, sinetron favoritnya yang hanya tayang
di bulan Ramadhan itu tak pernah dilewatkannya barang sehari pun.
Padahal bulan ramadhan sudah berjalan setengahnya.
Sesampainya diruang TV, tangannya langsung refleks menyentuh tombol hijau
pada remote. Dan begitulah sampai saat ini,
Randi masih saja asyik didepan televisi.
“udah shalat, Ran?!”Tanya kak Sandi sembari duduk disamping adik laki-laki
semata wayangnya itu.
“iya kak. ntar lagi. Nanggung nih.
Baru juga jam 6 lewat sepuluh.”ucapnya.
Matanya melirik acuh jam di dinding ruangan.
Sandi pun terlihat asyik menonton.
Sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya.

Menit demi menit pun terlewati. Jarum panjang pada jam dinding
sudah menunjuk ke angka 6. Itu berarti sudah
20 menit ‘nanggung’ yang diucapkan Randi.
Melihat anak laki-lakinya tak juga berangkat untuk shalat,
mama pun segera kembali keruang TV setelah tadi sibuk menata makanan di meja makan.”Ran…mau shalat jam berapa?!!” nada suara mama pun sudah naik 5 oktaf.
“iya ma…nunggu iklan bentar lagi. Sabar ma…sabar..Bulan puasa ga’ boleh marah-marah..”ucapnya sambil cengar-cengir.
“lagian kamu…bukannya shalat dulu, malah asyik didepan TV. Ntar lagi tuh dah isya.... percuma aja nontonnya sinetron yang sarat nilai-nilai agama kalo’ sama sekali ga’ pernah kamu terapin. Menunda-nunda shalat itu ga’ baek.
Pahala yang kamu dapet juga nantinya bakal ditunda-tunda sama Allah.
Dijeda nontonnya bentar, kenapa sih? Kamu ga’ bakalan kehilangan
alur ceritanya kok, kalo’ Cuma ninggalin sepuluh menit…”ocehan mama terhenti
tatkala mendengar suara bel dari pintu depan.
Masih dengan serbet ditangan mama pun keluar menemui sang tamu.
Setelah membuka pintu suara gaduh pun langsung memenuhi ruang tamu.
“assalamua’alaikum, nek…”teriak gadis kecil sembari menyeruak
masuk dan menggandeng tangan sang nenek.
Sang nenek hanya bisa tersenyum, lalu menjawil pipi Vani, cucunya semata wayangnya.

sabarrr....tunggu part IInya yaaa...;-)



First Love Keyla, Part I

First Love Keyla…

you will always be inside my heart
itsumo anatadakeno bashogaarukara
i hope that I have a place in your heart too
now and forever you are still the one
imawa madakanashii love song
atarashii uta utaerumade


Keyla masih saja terpaku diatas dermaga tua itu. Menatap lepas ke arah laut luas yang tak berujung. Telinganya masih saja mendengarkan suara manis Utada Hikaru yang mendendangkan First Love berulang-ulang. Bukan kesalahan mp3-nya jika lagu yang terus terdengar sejak satu jam yang lalu hanya First Love saja. Gadis berkulit hitam manis tersebut telah mengatur mp3-nya agar memainkan lagu yang sama berulang-ulang. First Love. Lagu ini bukan saja indah dan enak didengar selama berjam-jam bagi Keyla. Ya, bukan hanya itu saja alasannya. Hal ini menyangkut kenangan beberapa tahun silam. Kenangan yang sampai saat ini masih membekas jelas diingatannya. Kenangan yang terjadi ditempat yang sama dimana kakinya berpijak saat ini…..

****************
“maafin aku Key…. Ini semua bukan keinginanku… aku ga’ sanggup untuk menolak keinginan ibuku. Terlebih keluarga Indah juga sudah terlanjur menganggap aku bagian dari keluarga mereka..”ujar Febri sambil menggenggam erat tangan Keyla.
Gadis itu hanya bisa terdiam. First Love ditelinganya tak lagi ia hayati seperti tadi, saat dimana ia dan Febri masih duduk bersebelahan, dan kepalanya masih bersandar dipundak Febri. Hal yang kerap mereka lakukan saat mengalami kebosanan yang sangat akan keramaian kota Jakarta.
Keyla masih mematung. Matanya menerawang kearah lautan luas. Bebas..liar.. Namun Febri tahu. Pandangan itu tak bermakna apa-apa. Kosong. Sekosong hati Keyla saat itu. Ia tahu betapa Keyla mencintainya…. Namun saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengatakan hal yang sebenarnya terjadi… dan mau tak mau harus mereka hadapi.
“baiklah Feb…”bisik Keyla akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. Begitu lirih. Air mata pun mengalir perlahan. Dan yang lebih menyayat lagi…mata itu tetap kosong seperti satu jam yang lalu.
“aku rela kamu nikah sama Indah.. aku doakan kamu bahagia dengannya…”suara itu masih terdengar lirih. Namun kali ini airmata itu diiringi dengan senyuman… senyuman sendu yang tak dapat diartikan…
“aku sayang kamu, Key… aku bener-bener ga’ mau pisah sama kamu. Tapi sayangnya, aku ga’ bisa egois memaksakan kehendakku sendiri.. maafin aku Key… aku udah nghianatin kamu…”. Mau tak mau airmata yang sejak tadi ditahan oleh Febri pun mengalir deras. Hatinya sungguh terluka melihat ketegaran Keyla, gadis yang selama ini selalu dimimpikannya untuk bisa menemani hidupnya. Namun semua itu kini benar-benar tinggal mimpi……

****************
Lamunan yang bermain diotaknya terhenti seketika oleh gerimis yang datang tiba-tiba. . Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal, Feb..bisik hati Keyla lirih.

tunggu sambungannya yaaa....;-)

Part II

sambungan yang sebelahh nih...;-)

Hari masih bisa dibilang pagi ketika kurasakan goncangan kecil
dari kamar kost-ku yang kecil bin mungil.
Mau tak mau, mata mengantukku pun terbuka perlahan.
Goncangan itu masih terasa walau hanya beberapa getaran kecil.
Tumben, mataku bisa terbuka!
Padahal biasanya, azan subuh di mushola samping kos-kosan pun
tak mampu membuatnya terbuka, apalagi,
bangkit untuk mengambil air wudhu yang dinginnya minta ampun.
Pasalnya, aku setiap malam selalu begadang bareng
anak-anak kost yang lain untuk gitaran,
ngegosipin cewek (jangan kira cowok ga’ pernah ngegosip!),
maen game (nyater komputer temen) sambil taruhan,
atau kalo ga’, nungguin film-film sejenis baywatch atau bahkan,
nyewa kaset bokep direntalan dan nonton sampai jam 3an.
Hmmm….pola hidup yang kurang sehat memang.
Namun, entah mengapa, aku enjoy saja menjalani semua itu tanpa
sedikit pun merasa berdosa.
Kali ini goncangan itu agak lebih kuat.
Aku dapat merasakan, dan bahkan melihatnya.
Piring-piring kotor yang menumpuk bergetar diatas meja.
Kudengar suara gaduh diluar kamarku. Seiring dengan goncangan
yang kali ini semakin kuat. Aku pun terlonjak bangun.
Rasa kantukku pun hilang sudah. Segera kuputar gerendel pintu.
Kulihat Husein lewat didepanku hanya memakai celana
pendek tanpa selembar benang pun ditubuhnya.
Wajahnya sama bingungnya denganku.
Sampai ketika, Rahman berteriak " Des, gempa, Des!"
GEMPA??? otakku pun langsung bekerja keras mencerna kata-kata itu.
Maklum, baru bangun tidur. Loading pun baru setengah jalan.
Namun getaran yang lebih kuat kali ini membuatku langsung tersentak.
Aku pun segera berlari. Tak peduli lagi pada siapa-siapa.
Bahkan, teman sekalipun. Genteng-genteng sudah mulai berjatuhan.
Dinding-dinding retak tak karuan. Belum lagi,
ketika berhasil keluar dari kosan, jalanan sudah penuh sesak
oleh warga yang kebingungan. Panik. Yang bisa kulakukan hanyalah berlari,
sampai akhirnya aku sampai dijalan raya utama.
Jalanan macet. Orang-orang menyelamatkan diri tanpa peduli pada apapun.
Disini sangat terlihat sekali keegoisan manusia.
Semuanya memancarkan rasa cuek dan tak peduli pada sesama.
Termasuk aku. Aku sampai dipertigaan jalan.
Bingung, mau kemana. Akhirnya, aku teringat pada kata-kata guru
ngajiku waktu masih dirumah dulu, untuk selalu mendahulukan
kanan dalam mengerjakan apapun. Akhirnya kuambil
jalan kekanan, masih sambil berlari.
Goncangan itu membuat aku tak bisa berlari cepat.
Namun aku semakin bingung, ketika banyak orang berlari
dari arah yang berlawanan denganku.
"awas!! Ada tsunami!!! Tsunami datang...!!!" teriak mereka.
Tsunami?!!?
Aaaahhhh....apa lagi ini?! Teriak batinku kesal.
Mau tak mau, akupun berbalik arah. Kembali berlari seperti tadi.
Kuperhatikan kiri dan kananku. Orang-orang banyak
yang bergelatakan tertimpa reruntuhan bangunan.
Anak-anak banyak yang terluka. Mbah-mbah tua renta
hanya bisa terdiam ditempat sambil menangis dan merintih meminta tolong.
Namun tragis. Tak ada satupun yang memperdulikannya.
Lagi-lagi, termasuk aku. Dari kejauhan,
aku kembali melihat orang-orang lari berlawanan arah dengan ku.
Lho?? " jangan lari kearah sana....!! gunung merapi mau meletus?!!!!"
teriak orang-orang. Kakiku lemas seketika.
Ya Allah, apa yang sedang terjadi sekarang? Batinku.
Namun hatiku kembali mengulang kata yang jarang sekali kuingat,
bahkan kuucapkan. Allah?? Ya, Allah…… sekarang aku hanya bisa terduduk.
Pasrah. Mengamati orang-orang yang berlari kesana kemari.
Aku hanya bisa diam. Tertegun. Perlahan, kurasakan butiran hangat dimataku.
Gempa masih saja menggoncang bumi. Semakin menggila, malah!
Namun aku tak peduli. Aku sudah lelah. Lelah untuk terus berlari.
Kuperhatikan sekelilingku. Mayat-mayat sudah semakin bertambah jumlahnya. Bergeletakan. Tumpuk-menumpuk.
Sementara, bangunan-bangunan yang ada…..tak lagi berbentuk.
Rata dengan tanah. Apakah ini yang namanya kiamat?batinku lagi.
Ya….., mungkin inilah kiamat………. Airmataku kembali meleleh.
Bayangan orangtuaku bermunculan silih berganti.
Hari-hariku yang sia-sia. Dan tentunya, terpikir olehku
tentang bekalku untuk menghadapNYA…. Airmataku terus mengalir turun...
Kali ini lebih deras. Teringat akan kebohongan-kebohongan yang
kulakukan pada ayah saat meminta uang bulanan, perkataan-perkataan kasar
pada beliau ketika keinginanku tak diturutinya, atau
bahkan kebusukan-kebusukan hati dan tingkah lakuku selama ini.
Oh Tuhan, betapa tak terhitungnya dosa-dosa hamba selama ini.
Tak bisa dibandingkan dengan tingginya lautan dan luasnya samudra,
bahkan banyaknya butiran pasir yang ada dipantai…

************************

"Woi, Des!! Bangun Des! Bangun! Lu ngigo' yach? Mana ada gempa? Des!!
Lu ada kuliah sore kan??"samar-samar kulihat wajah Rahman dihadapanku.
Pelan-pelan mataku bisa memfokuskan subjek yang ada didepanku.
Kupandang sekelilingku dengan nafas yang masih terengah-engah.
Keringat dingin membasahi tubuhku. Mataku pun rupanya benar-benar basah.
Aku hanya bisa tertegun. Merenungi mimpiku.
"Woi!!! Lu dah sadar kan? Mimpi apa Lu, sampe' nangis-nangis sgala?!
Kayak cewek aja Lu!" teriak Rahman sambil cengengesan ga' karuan.
Mungkin, dia geli karena melihatku menangis.... aku masih saja tertegun,
sampai akhirnya terdengar suara azan
yang mengajak saudara-saudara sesama muslim untuk shalat ashar....
perlahan kugerakkan tubuhku, dan masih dengan diam,
kulangkahkan kaiku menuju tempat wudhu.
"Tumben, Lu, denger azan langsung wudhu... biasanya aja Lu bales teriakin,
atau kalo' ga', Lu kencengin volume radio Lu?!!" ucap Rahman sambil
geleng-geleng kepala. Bingung. Aku masih saja diam.
Tak peduli. Yang ingin kulakukan saat ini hanya satu...
yaitu sujud syukur pada yang Maha Kuasa
karena telah memberikan padaku kehidupan kembali,
dan waktu untuk bisa merubah diri, atau bahkan merubah segala-galanya...(*)


Inget tragedi 27 Mei 2006 ga'??? J, bersyukurlah kita yang mengalaminya, karena masih diberi kesempatan hidup... karena itu, jangan disia-siakan yach;-)

Minggu, 04 November 2007

Part I

“Astaghfirullah…!!”
By : Gee
“Aaaaahhh…..” Sudah berkali-kali desahan
seperti itu keluar dari mulutku.
Lebih tak terhitung lagi hembusan
nafas kekesalan keluar dari hidungku.
Seperti hari-hari biasanya, kemarin, hari ini,
dan mungkin juga besok, Aku berjalan dengan langkah gontai
dari kampus menuju kost-kosanku
yang jaraknya lumayan jauh.
Dan juga seperti biasanya, matahari bersinar terik memanggang
ubun-ubunku. Belum lagi ditambah perut
yang keroncongan memanggil-manggil minta diisi.
Kulirik alba di pergelangan tanganku.
Yach, wajar sich, saat ini sudah jam satu.
Sudah waktunya untuk mencukupi kebutuhan lahiriahku.
Mau makan dikantin, uang bulananku sudah
3S2P alias sangat sangat sangat pa-pasan.
Paling, kiriman telat lagi, seperti biasanya.
Makanya, untuk jajan dikantin aku perlu mikir 3X.
Bulan-bulan terakhir ini aku memang sudah jarang menginjakkan kaki ditempat yang namanya kantin kampus.
Andalanku hanyalah warung Bu’ Jamilah yang
menjual makanan dengan harga yang, kali ini,
3S2M alias sangat sangat sangat murah meriah.
(hehe) Apalagi, hari-hari terakhir ini,
aku sering mendapat bonus ekstra, sayur yang lebih banyak dari biasanya.
Mungkin, Bu’Milah (panggilan akrabku terhadap beliau, hehe)
terenyuh melihatku karena selalu memesan nasi sayur + teroris (tempe rong iris, andalan anak-anak kost).
Lucu juga, jika mengingat nasibku
yang lumayan miris (atau miris banget, malah!!).
Bibir yang tadinya sudah menekuk 5 cm menarik kekiri kekanan
membentuk sebuah guratan senyum. Ga’ wajar sich,
kalau mengingat genderku yang cowok, cemberut seperti
yang biasanya dilakukan oleh kaum hawa saat lagi ngambek.
Namun lagi-lagi senyum itu tiba-tiba pudar ketika mataku tertuju pada alas kaki lusuh yang setia menemaniku.
Emang sich, masih lumayan bagus, tapi… jika dibandingkan
dengan teman-teman yang sepetunya
tiap hari bisa ganti, rada minder juga.
Jangankan buat beli sepatu baru, buat beli pembersih wajah
(jelek-jelek begini aku termasuk tipe cowok feminis
yang mementingkan wajah) aja aku masih mikir-mikir.
Semenjak datang kekota pelajar ini buat kuliah,
wajahku memang jadi tambah hancur. Jerawat jadi bertambah dua kali lipat.
Bayangin aja, tiap hari musti kena debu campur
keringat plus otak stress karena mikirin proposal
yang aku ajuin ke ayah buat beli motor tak kunjung ada kata setuju.
Padahal, motor bekas, kan, hanya 5 jutaan…
Ahh, emang dasar ayah saja yang terlalu pelit dan pilih kasih!!
Rasa males jalan+malu membuatku semaki n gencar
melayangkan serbuan ke ayah, baik dengan cara halus(merayu),
atau dengan cara ‘agak’ kasar (marah-marah plus menggerutu).
Lebih-lebih karena ga’ punya motor, aku jadi ga’ bisa nyari gebetan.
Mana ada, cewek jaman sekarang yang mau diapelin jalan kaki?!
Tapi tiap kali ditelpon, jawaban ayah hanyalah
Ya, nanti ayah pikir-pikir lagi. Atau kalo’ ga’ ghitu,
“kamu khan tahu, adikmu tahun depan sudah lulus dan mau ngelanjutin kuliah juga, kayak kamu. Jadi kamu harus…..”
bla…..bla….bla….. Ujung-ujungnya, pulsa siemens jelekku
yang jarang-jarang terisi jadi habis gara-gara mendengarkan
ceramah-ceramah ayah yang menurutku ga’ mutu sama sekali!!
Yach, jadi ga’ bisa lagi neror cewek-cewek dengan kata-kata manis lagi, dech!! Padahal, andalanku buat memikat hati
cewek-cewek khan hanya ponsel jelek itu?! “Aaaahhhh!!!”


bersambung yah coyy...buka trus halaman selanjutnya,,,