Minggu, 04 November 2007

Part I

“Astaghfirullah…!!”
By : Gee
“Aaaaahhh…..” Sudah berkali-kali desahan
seperti itu keluar dari mulutku.
Lebih tak terhitung lagi hembusan
nafas kekesalan keluar dari hidungku.
Seperti hari-hari biasanya, kemarin, hari ini,
dan mungkin juga besok, Aku berjalan dengan langkah gontai
dari kampus menuju kost-kosanku
yang jaraknya lumayan jauh.
Dan juga seperti biasanya, matahari bersinar terik memanggang
ubun-ubunku. Belum lagi ditambah perut
yang keroncongan memanggil-manggil minta diisi.
Kulirik alba di pergelangan tanganku.
Yach, wajar sich, saat ini sudah jam satu.
Sudah waktunya untuk mencukupi kebutuhan lahiriahku.
Mau makan dikantin, uang bulananku sudah
3S2P alias sangat sangat sangat pa-pasan.
Paling, kiriman telat lagi, seperti biasanya.
Makanya, untuk jajan dikantin aku perlu mikir 3X.
Bulan-bulan terakhir ini aku memang sudah jarang menginjakkan kaki ditempat yang namanya kantin kampus.
Andalanku hanyalah warung Bu’ Jamilah yang
menjual makanan dengan harga yang, kali ini,
3S2M alias sangat sangat sangat murah meriah.
(hehe) Apalagi, hari-hari terakhir ini,
aku sering mendapat bonus ekstra, sayur yang lebih banyak dari biasanya.
Mungkin, Bu’Milah (panggilan akrabku terhadap beliau, hehe)
terenyuh melihatku karena selalu memesan nasi sayur + teroris (tempe rong iris, andalan anak-anak kost).
Lucu juga, jika mengingat nasibku
yang lumayan miris (atau miris banget, malah!!).
Bibir yang tadinya sudah menekuk 5 cm menarik kekiri kekanan
membentuk sebuah guratan senyum. Ga’ wajar sich,
kalau mengingat genderku yang cowok, cemberut seperti
yang biasanya dilakukan oleh kaum hawa saat lagi ngambek.
Namun lagi-lagi senyum itu tiba-tiba pudar ketika mataku tertuju pada alas kaki lusuh yang setia menemaniku.
Emang sich, masih lumayan bagus, tapi… jika dibandingkan
dengan teman-teman yang sepetunya
tiap hari bisa ganti, rada minder juga.
Jangankan buat beli sepatu baru, buat beli pembersih wajah
(jelek-jelek begini aku termasuk tipe cowok feminis
yang mementingkan wajah) aja aku masih mikir-mikir.
Semenjak datang kekota pelajar ini buat kuliah,
wajahku memang jadi tambah hancur. Jerawat jadi bertambah dua kali lipat.
Bayangin aja, tiap hari musti kena debu campur
keringat plus otak stress karena mikirin proposal
yang aku ajuin ke ayah buat beli motor tak kunjung ada kata setuju.
Padahal, motor bekas, kan, hanya 5 jutaan…
Ahh, emang dasar ayah saja yang terlalu pelit dan pilih kasih!!
Rasa males jalan+malu membuatku semaki n gencar
melayangkan serbuan ke ayah, baik dengan cara halus(merayu),
atau dengan cara ‘agak’ kasar (marah-marah plus menggerutu).
Lebih-lebih karena ga’ punya motor, aku jadi ga’ bisa nyari gebetan.
Mana ada, cewek jaman sekarang yang mau diapelin jalan kaki?!
Tapi tiap kali ditelpon, jawaban ayah hanyalah
Ya, nanti ayah pikir-pikir lagi. Atau kalo’ ga’ ghitu,
“kamu khan tahu, adikmu tahun depan sudah lulus dan mau ngelanjutin kuliah juga, kayak kamu. Jadi kamu harus…..”
bla…..bla….bla….. Ujung-ujungnya, pulsa siemens jelekku
yang jarang-jarang terisi jadi habis gara-gara mendengarkan
ceramah-ceramah ayah yang menurutku ga’ mutu sama sekali!!
Yach, jadi ga’ bisa lagi neror cewek-cewek dengan kata-kata manis lagi, dech!! Padahal, andalanku buat memikat hati
cewek-cewek khan hanya ponsel jelek itu?! “Aaaahhhh!!!”


bersambung yah coyy...buka trus halaman selanjutnya,,,

Tidak ada komentar: