Minggu, 04 November 2007

Analisis Situasi Mizone

ANALISIS SITUASI
MIZONE


Dalam menganalis situasi dalam sebuah perusahaan
pada dasarnya diperlukan lima unsur penting.
Kelima unsur penting tersebut adalah konsumer, produk, kompetitor, firma/perusahaaan, dan environtment/lingkungan.
Dalam studi kasus kali ini, saya ingin menganalisis mengenai brand
dari suatu produk minuman kesehatan yang baru-baru ini agak down
karena diakibatkan oleh isu-isu adanya campuran
Natrium Benzoat/bahan pengawet dalam bahan dasar pembuat produk minuman tersebut.
Ya, Mizone!!
Saya kira para pembaca sudah tahu tentang kasus apa
yang akan saya bahas dalam paper/tugas kali ini,
karena merk minuman tersebut sudah cukup akrab berada ditelinga pambaca.
Saya kira, kasus tersebut sangat baik untuk dianalisis
karena melihat beberapa kenyataan, mengenai strategi komunikasi
pemasaran yang dijalankan oleh perusahaan brand tersebut untuk
mengembalikan kembali loyalitas Customers-nya.
Untuk itu, saya akan mulai dari unsur yang pertama untuk proses analisis situasi ini, yaitu mengamati konsumer sebagai penikmat/pengguna produk.

1. Konsumer

Awal Desember 2006 lalu, Mizone mendapatkan sebuah pukulan yang amat keras.
Para konsumernya yang semula merupakan pengguna produk yang loyal/setia,
secara serempak berbalik arah menjadi antipati terhadap produk Mizone.
Banyak diantara konsumen, (termasuk saya sendiri) yang kecewa
dengan salah satu produk minuman kesehatan yang satu ini.
Bagaimana tidak, Mizone, yang diakui sebagai produk yang lumayan bagus
dengan harga terjangkau ini, ternyata secara tidak langsung
menipu para konsumernya (anggapan para konsumernya).
Mizone diakui sebagai produk minuman kesehatan yang menggunakan bahan pengawet; yaitu Natrium Benzoat. Banyak dari konsumer yang mendengar
atau menonton iklan dari para kompetitor Mizone berganti arah.
Mereka tidak lagi percaya dengan produk yang biasanya mereka nikmati tersebut. Bahkan ketakutan dan sikap antipati
yang mereka lakukan tak hanya mereka tunjukkan bagi diri sendiri,
tetapi juga bagi orang lain. Buktinya sering sekali saya dapatkan
dari pengamatan tingkah laku orang-orang disekitar saya sendiri, dulu,
saat isu mengenai bahan pengawet Natrium Benzoat sedang gencar-gencarnya diberitakan.
Banyak para pengguna setia Mizone beralih ke, sebut saja Vitazone.
Hal ini dikarenakan, dari iklannya saja, terlihat jelas bahwa Vitazone
ingin menunjukkan bahwa Vitazone bukanlah produk minuman kesehatan
yang menggunakan bahan pengawet seperti produk-produk minuman kesehatan ‘lainnya’. Selain itu, saat mereka melihat orang lain
masih tetap saja mengkonsumsi Mizone, mereka pasti langsung mencegah atau berkomentar tentang bahan pengawet yang terkandung didalamnya.

2. Produk
Secara Produk sendiri, Mizone sudah dikemas dengan Packeging yang lumayan menarik. Dengan kemasan botol berwarna biru dan
ukuran simpel yang mudah dibawa kemana-kemana,
Mizone layak disebut sebagai minuman kesehatan para pecinta olahraga,
dan orang yang beraktivitas tinggi.

3. Kompetitor / Pesaing
Sebagai produk minuman kesehatan dinegara yang heterogen seperti Indonesia,
Mizone tentunya bukanlah satu-satunya produk
dengan karakterisasi minuman kesehatan.
Banyak sekali kompetitor yang bergerak dalam bidang yang sama dengan Mizone.
Untuk kasus ini, saya mengambil satu contoh produk minuman
kesehatan yang jika dilihat sepintas sangat mirip dengan karakteristik Mizone. Vitazone!! Saya kira pembaca sebagai
pengguna maupun pengamat iklan (sebagai salah satu alat komunikasi perusahaan terhadap konsumer) yang baik sangat menyadari adanya persaingan yang kuat
antara Mizone dengan Vitazone.
Hal ini bisa kita lihat dari iklan-iklan yang ditampilkan oleh Vitazone sebagai kompetitor. Dalam iklan tersebut
sangat jelas terlihat bagaimana Vitazone memanfaatkan ‘cedera’ maupun
‘cacat’ produk Mizone yang kemarin diisolir menggunakan Natrium Benzoat
sebagai bahan pengawet dalam produknya.
Hal tersebut ternyata tidak disia-siakan oleh Vitazone.
Dengan sigap Vitazone memanfaatkan berbagai media baik itu melalui iklan dikoran (media cetak),
Billboard dijalan-jalan strategis, ataupun melalui iklan ditelevisi.
Terlebih lagi, sejak awal muncul, Vitazone sudah memposisikan dirinya sebagai minuman kesehatan tanpa bahan pengawet.

4. Perusahaan / Firma
Perusahan dari Mizone sendiri sebenarnya tidak tinggal diam.
Berbagai cara dan usaha mereka lakukan demi mengembalikan nama baik Mizone
dan perusahaan. Setelah terdengar kabar tak sedap dari berbagai media
dan dari berbagai perilaku konsumen yang terlihat,
Mizone langsung mengadakan konferensi pers.
Klarifikasi tentang Natrium Benzoat langsung dilakukan.
Wartawan memang banyak yang datang, namun liputan media tampaknya
tak banyak yang terbaca oleh para konsumer.
Hal ini tentu saja tetap merugikan pihak Mizone.
Sayangnya, Mizone tak terlalu banyak menggunakan kemampuan PR (Publik Relation) mereka. Itulah sebabnya, ketika timbul pertanyaan mengapa Mizone
yang selama ini dinilai sudah cukup matang dalam memasarkan
Produknya langsung down begitu saja ketika diserang isu mengenai
bahan pengawet Natrium Benzoat, jawabannya adalah,
Mizone kurang mengoptimalkan peran public relation yang mereka punyai.
Satu hal yang begitu tertarik untuk saya kutip dari majalah B&B,
dalam artikel Duo Zone yang ditulis oleh Silih Agung Wasesa,
seorang Managing Director Asia PR, perusahaan pencitraan merek, dan Dosen pemasaran di London School of Public Relation_Jakarta, referensi saya dalam menulis tugas ini;

“ satu hal yang membedakan mengenai peran PR dan iklan adalah paradigma yang mereka gunakan saat mengkomunikasikan sebuah merek. Kalau paradigma iklan berangkat dari keunggulan produk, maka public relation justru berangkat dari keberatan masyarakat terhadap merek tersebut. Informasi yang di-share oleh public relation harus mampu menjawab keberatan publik terhadap sebuah merek.”

5. Lingkungan / Environtment
Dalam lingkungannya sendiri, Mizone jelas-jelas berada dalam posisi
terhimpit. Bagaimana tidak, banyak sekali media
yang memberitakan hal tersebut. Terlebih lagi, munculnya artikel dari dua media besar di Indonesia, Republika dan tabloid Nova mengenai produk-produk yang mengandung bahan pengawet.
Artikel tersebut juga didukung oleh data yang kredibel
dari lembaga penelitian di Eropa.
Dalam kasus ini, Vitazone mampu mengangkat kepentingan produknya
dengan isu publik; dan ketika media massa menangkap ini,
terciptalah ketakutan publik yang membuat kalang kabut kompetitornya.
Maka dari itu, hal yang menurut saya dapat kita tarik dari adanya
kasus diatas adalah perusahaan semestinya harus betul-betul
mengoptimalkan peran dan fungsi seorang PR
sebagaimana mestinya agar keberatan maupun komplain-komplain
mengenai produk dari perusahaan dapat langsung
teratasi tanpa menjalar menjadi suatu masalah yang besar.

oleh : Nawang Fatma Putri
(penulis adalah mahasiswi Departemen Ilmu Komunikasi, UMY)

Tidak ada komentar: